A. Pendahuluan

Munculnya analisis wacana, khususnya dalam bidang analisis teks media melahirkan berbagai varian analisis yang pada akhirnya memunculkan persinggungan antara model analisis yang satu dengan yang lain. Analisis model teks media versi Norman Fairclogh[1] [2] dan Teun A Van Dijk[3] misalnya, keduanya menekankan analisis teks berdasarkan konteks sosial. Dalam versi Indonesia teori analisis teks media disadur cukup baik oleh Eryanto[4]. Dalam buku ini Eryanto memaparkan berbagai kompilasi model analisis teks media dari berbagai perspektif yang dikemukakan Foulcault, Roger Fowler,  Theo van Leeuwen, Sara Mills, Teun A Van Dijk, dan Norman Fairclouch dengan contoh teks surat kabar Indonesia. Pemahaman perspektif teks media juga diteliti oleh Suroso yang memetakan empat macam perspektif media Indonesia yang pro masyarakat, negara, yang lain, dan netral[5].

Tulisan ini ingin mendeskripsikan model analisis Wacana Teun A van Dijk yang dalam banyak hal diteruskan model analisisnya oleh Norman Fairclouch. Untuk memperkaya bahan analisis juga disinggung pemahaman wacana dan ideologi dalam pers  Roger Fowler, dengan kasus analisis surat kabar Indonesia pasca era reformasi.

 

B. Analisis Wacana Model Teun Van Dijk

            Menurut Van Dijk, penelitian analisis wacana tidak cukup hanya didasarkan  pada analisis teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi. Pemahaman produksi teks pada akhirnya akan memperoleh pengetahuan mengapa teks bisa demikian. Van dijk juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi/pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap teks-teks tertentu.

Pada rejim Soeharto misalnya konsolidasi kekuasaan dilakukan melalui bahasa dengan beberapa cara[6]. Pertama, penghalusan konsep-konsep dan pengertian yang bersentuan dengan kekuasaan. Penghalusan ini untuk melenyapkan konsep yang membahayakan Orde Baru. Pemasyarakatan  kata masa bakti, persatuan dan kesatuan,  ketahanan nasional, rawan pangan, daerah tertinggal, pengentasan kemiskinan, negara hukum, dll. Rawan pangan lebih baik dari kelaparan dan masa bakti lebih baik dari masa jabatan. Kedua, memperkasar, bertujuan untuk menyudutkan kekuatan lain yang dapat mengancam kekuasaan. Pemroduksian kata-kata SARA, GPK, subfersif, bersih diri, ekstrim kanan, ekstrim kiri, golongan frustasi, OTB (organisasi Tanpa Bentuk), anti Pancasila. Kata-kata itu berdampak buruk pada golongan oposisi. Ketiga, penciptaan kata-kata yang bisa mengerem dan menurunkan emosi masyarakat. Kata-kata ini sering diambil dari leksikon bahasa Jawa, misalnya mendhem jero mikul dhuwur,  jer basuki mawa bea, lengser keprabon dan pemakian kata yang referensinya tidak jelas sperti demi kepentingan umum, mengencangkan ikat pinggang, dll. Keempat, penyeragaman istilah. Hal ini dilakukan oleh pejabat dan birokrat, misalnya SDSB bukan judi, darah pengacau halal hukumnya, siapa pun boleh mendirikan partai baru, dll. Kelima, eufemisme bahasa. Pemakaian kalimat “Keterlibatan 7 oknum Kopasus merupakan pil pahit” utang diganti dengan bantuan luar negeri, pelacur diganti dengan pekerja seks komersial, penjara menjadi lembaga pemasyarakatan, dst.

Wacana digambarkan oleh Van Dijk mempunyai tiga dimensi/bangunan yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis model van Dijk adalah menggabungkan tiga dimensi wacana tersebut  dalam satu kesatuan analisis. Dimensi teks yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana  yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari  proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan.  Sedangkan aspek konteks  mempelajari bangunan wacana  yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah. Analisis van Dijk menghubungkan analisis tekstual ke arah analisis yang komprehensif bagaimana teks diproduksi, baik dalam hubungannya  dengan individu wartawan dan masyarakat. Model analisis van Dijk digambarkan sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Konteks

 

 


 

 

 

 

Kognisi Sosial

Teks

           

Teks

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Teks menurut van Dijk terdiri dari atas beberpa struktur/tingkatan yang saling mendukung yang terdiri struktur. Pertama, struktur makro yaitu makna global/umum dari teks. Meminjam istilah Halliday[7] disebut topik/tema yang diangkat, misalnyateks tentang  IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri). Kedua, superstruktur yaitu kerangka suatu teks, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup dan kesimpulan. Ketiga, makna suatu teks yang dapat diamati  dari pilihan kata, kalimat, dan gaya yang dipakai dalam suatu teks.

            Kekhasan van Dijk dalam melihat struktur berita dalam surat kabar memfokuskan pada struktur tema (thematics structures) dan skemata surat kabar (News scemata). Elemen tematik menunjuk pada gambaran umum dari suatu teks.  Disebut juga gagasan inti, ringkasan, atau yang utama dari suatu teks. Teks juga mempunyai skema  atau alur dari pendahuluan sampai akhir.. Bagaimana bagian-bagian dari teks disusun dan diurutkan  sehingga membentuk kesatuan arti. Wacana percakapan misalnya, memiliki skema perkenalan, isi pemberitaan, dan penutup. Demikian pula jurnal ilmiah memiliki skema tertentu. Meskipun mempunyai skema yang beragam berita umumnya secara hipotetik mempunyai dua kategori yaitu summary yang umumnya ditandai oleh elemen judul dan lead dan kedua story yakni isi berita secara keseluruhan.

            Teks tidak hanya didefinisikan suatu pandangan tertentu atau topik tertentu tetapi suatu pandangan umum yang koheren. Van Dijk menyebut sebagai keherensi global (global coherence) yaitu bagian dari teks jika dirunut menunjukkan pada suatu titik gagasan umum, dan bagian-bagian itu saling mendukung satu sama lain untuk menggambarkan topik umum. Dalam kasus berita, teks pelangaran HAM, demokrasi. korupsi, dan kekerasan memiliki koherensi glonal dengan yang lain.

 

C. Pendekatan terhadap Fenomena Perspektif dalam Studi Wacana

            Fenomena perspektif dapat dikaji dalam tiga pendekatan yaitu visi, fokalisasi, dan empati. Visi adalah penekatan yang lebih mendasarkan diri pada bidang sosiologi politik dan mengaitkan kajian perspektif dengan ideologi[8]. Fokalisasi merupakan pendekatan yang memasukkan teori naratif dalam analisisnya. Seorang narator dapat menjadi seorang individu lain yang telah atau sedang menyaksikan peristiwa. Pendekatan ini lazim digunakan dalam sastra. Wartawan pun dapat menggunakan pendekatan ini dalam menulis features berita    yang dapat mengungkapkan unsur emosi yang bersifat sugestif dan reflektif.. Pendekatan empati mendasarkan diri pada bidang psikolinguistik. Pembicara mengenalkan seseorang atau objek yang merupakan bagian dari peristiwa yang dideskripsikan dalam kalimat.

Pengkajian perspektif (kekuasan) dalam surat kabar Indonesia  dapat memanfaatkan pendekatan visi, bertujuan mengungkap aspek-aspek ideologi yang mendasari dan membentuk perspektif pemberitaan surat kabar di Indonesia.[9]. Mereproduksi pemikiran van Dijk tentang analisis wacana media, berikut dipaparkan  strategi penyajian informasi (SPI) dan bentuk-bentuk ekspresi bahasa.

1. Stretegi Penyajian Informasi

Dalam wacana tulis atau teks, perspektif dibangun sejak penulis memutuskan apa yang dipilih sebagai tema dalam tulisannya. Tema merupakan apa yang dipakai penulis sebagai titik tolak permulan tulisannya[10]. Pemilihan tema tertentu sebagai titik tolak pembicaraan akan mendasari pengembangan tulisannya lebih lanjut dan membawa konsekuensi pada masuknya informasi-informasi tertentu , baik berupa keadaan , kejadian, atau peristiwa serta partisipan-partisipan yang relevan.

Selain pilihan tema, perspektif juga dibangun melalui pemilihan judul.  Judul wacana berbeda dengan topik, judul dalam hal ini berfungsi sebagai upaya tematisasi. Upaya tematisasi menggunakan judul ini  selain menjadi titik tolak pengembangan mengenai informasi yang relevan dengan tulisan, juga memiliki titik tolak membatasi tafsiran makna dari informasi yang dikembangkan dalam isi berita. Lima judul berita tentang sekolah berprestasi dan ujian nasional (UN)  ditulis media yang sama berikut ini memiliki perspektif berbeda.

            (1)  UN Pemetaan Mutu yang Penuh Kejutan (Kompas, 10/4/07)

            (2)  Mereka Punya Kiat “Menaklukkan” UN (Kompas, 11/4/07)

            (3) Ujian Nasional dan Kultur Akademik (Kompas, 12/4/07)

            (4) Dari Bangil untuk Indonesia …(11/4/07)

            (5) Ujian Nasional

                 “Algojo Itu Telah Datang… (Kompas Yogya, 18/4/07)

Berdasar ke lima judul berita tersebut wartawan kompas mengajak pembaca mentertawakan kekerasan yang dilakukan oleh negara dengan penyelenggaraan UN yang kurang jelas parameter mutunya (1) kurang tepat dalam proses ujiannya  (2), salah dalam penilaian proses belajar (3) dan parameter kemajuan sekolah dibandingkan sekolah lain (4) monster yang menakutkan siswa (5)

            Demikian juga dalam headline tentang kekerasan di IPDN, wartawan menulis judul berikut dengan pespektif yang berbeda.

            (6) IPDN Tunda Terima Praja Baru

                  I Nyoman Sumaryadi Dilaporkan ke Mabes Polri (Kompas 10/4/07)

            (7)  DPR Harus Ikut Selidiki IPDN

Penonaktifan Inu Kencana sebagai Pengajar Dipertanyakan IPDN  (Kompas 11/4/07)

            (8)  DPRD Sulut Minta Pembubaran IPDN

                   Formalin Kaburkan Penyebab Kematian Cliff Muntu (Kompas, 11/4/07)     

            (9) IPDN Harus Disesuaikan UU

       10 Terpidana Kasus Kematian Wahyu Hidayat Belum Dieksekusi. (Kompas, 12/4/07)

Berdasarkan ke empat judul tersebut pemerintah menghentikan tidak menerima praja baru 2007/2008 menyusul kematian Cliff Muntu akibat kekerasan seniornya, DPR harus segera turun tangan menyelidiki kekerasan di IPDN, apalagi seorang dosen yang kritis dinonaktifkan (7), 17 anggota DPRD sulut meminta kepada Depdagri membubarkan IPDN, menyusul kematian Cliff Muntu, praja asal Sulut (8), dan Depdiknas mendorong IPDN dan lembaga pendidikan lain di bawah departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen menyesuaikan diri dengan ketentuan dalam Undang-undang No 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional (9)  Sedanga data (10) adalah ketakutan siswa dalam menyongsong Unas.   

 

2. Bentuk Bentuk Ekspresi Bahasa

Perspektif dalam produksi bahasa ternyata tidak hanya dapat diamati keberadaannya dalam struktur wacana tetapi dapat juga diamati dalam struktur yang lebih rendah dari wacana. Perspektif suatu ideologi dipengaruhi secara sistematis pada pemilihan bentuk-bentuk ekspresi linguistik baik pada tatanan leksikal (kosakata), sintaksis (kalimat) dan wacana seperti pemakaian kosakata, sistem ketransitifan, struktur nominalisasi, modalitas, tindak tutur, metafora, dan struktur informasi[11].

a. Kosakata

Pemakaian kosakata bukan semata persoalan teknis tetapi sebagai praktik ideologi. Pilihan kata dalam suatu teks menandai secara sosial dan ideologis bidang pengalaman yang berbeda  dari penulisanya baik berupa nilai eksperiental, nilai relasional, dan nilai ekspresif. Nilai eksperiental berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan yang dibawakan oleh kata-kata tersebut. Nilai rasional berkaitan dengan dengan hubungan-hubungan sosial yang tercipta oleh kata tersebut. Nilai ekspresif berkaitan dengan pemilihan atau evaluasi tentang sesuatu yang dicerminkan oleh kata tersebut. Perkosaan dapat dimaknai “memperkosa, meniduri, menindih, menggagahi, menodai, memerawani, dst”. Pembunuhan dapat diganti dengan “digebug”,  “dilibas”, “diamankan dan “disukabumikan”

 

b. Sistem Ketransitifan

            Menurut Fowler bahasa dipandang sebagai model  yang mengubungkan antara objek dan peristiwa. Terdapat tiga model  transitifitas yaitu transitif, intransitifdan relasional. Dalam model transitif berhubungan dengan proses melihat suatu tindakan dan bagian-bagian lain sebagai akibat suatu tindakan. “Polisi memukul mahasiswa” adalah bentuk transitif. Polisi sebagai aktor yang menyebabkan suatu tindakan melakukan sesuatu “memukul”. Model intransitif seorang aktor dihubungkan dengan suatu proses tetapi tanpa menjelaskan atau menggmbarkan akibat atau objek yang dikenai. “Polisi menembak”, “Polisi mengamankan”. Sedangkan model relasional menggambarkan sama-sama kata benda. “Korban Polisi itu adalah seorang ayah dari seorang balita”. Hubungan juga bersifat atributi, benda dihubungkan dengan kata sifat untuk menunjukkan kualitas atau penilaian tertentu. Misalnya “Polisi itu sangat garang”  

            Bentuk transitif memasukkan suatu pandangan dan sikap penulis yang berbeda tentang peristiwa yang dilaporkan, Berikut disajikan klausa yang memiliki berbagai perspektif.

(10) Polisi menembak mati enam demonstran

            (11) Enam demosntran ditembak mati

            (12) Enam demosntan tewas

            (13) “Enam demosntran ditembak mati” Ujar saksi mata

            (14) Saksi mata melihat enam demosntran mati tertembak

            (15) Enam mahasiswa yang tewas itu diantaranya Elang Mulya

                    Lesmana, Hendriawan Sie, dan Hafidin R… 

c. Struktur Nominalisasi

            Nominalisasi adalah transformasi sintaksis secara radikal dalam suatu klausa, yang memiliki konsekuensi struktural yang luas dan memberikan kesempatan menyampaikan ideologi. Dalam bahasa Indonesia predikat verba direalisasikan secara sintaksis  menjadi nomina. Salah satunya dilakukan dengan memberi imbuhan “pe-an”. Kata memperkosa menjadi perkosan, membunuh menjadi pembunuhan, menembak menjadi penembakan. Contoh berikut ini memiliki perspektif berbeda

            (16) Seorang ayah memperkosa anak gadisnya sendiri yang berusia

                    12 tahun.

            (17) Perkosaan menimpa anak gadis yang beru berumur 12 tahun.

            (18) Polisi menembak secara membabi-buta dalam insiden

                    Semanggi.

            (19) Penembakan secara membabi buta terjadi dalam insiden

                    Semanggi.  

d. Modalitas

            Modalitas diartikan sebagai komentar atau sikap yang berasal dari teks, baik secara eksplisit atau implisit diberikan oleh penulis terhadap apa yang dilaporkan, yakni keadaan, peristiwa, dan tindakan. Modalitas memiliki peluang besar untuk digunakan jurnalis dalam membangun perspektif pemberitaan yang mempengaruhi opini pembaca. Dengan modalitas, penulis dapat memasukkan pandangan pribadi atau institusinya ke dalam proposisi yang ditulisnya melalui pilihan modalitas[12]. Modalitas sebagai komentar atau sikap penulis yang tertuang dalam teks dibagi menjadi empat yaitu (1) kebenaran, (2) keharusan, (3) izin, (4) keinginan. Contoh berikut modalitas yang menyiratkan pespektif pemberitaan.

             (20) Tommy Soeharto harus ditangkap

             (21) Tommy Soeharto seharusnya ditangkap

            (22) Tommy Soeharto bisa ditangkap

            (23) Tommy Soeharto mungkin ditangkap

            (24) Tommy Soeharto tidak akan tertangkap

            (25) Tindakan penangkapan Tommy Soeharto dinilai sangat tepat

 

Pemakaian modalitas harus, seharusnya, dan sangat tepat pada (20), (21), dan (25) menunjukkan dukungan tindakan yang tercermin dalam proposisi. Sementara (22) dan (23) memperlihatkan sikap netral bila dibandingkan dengan  (20), (22) dan (25)

   

 

e. Tindak Tutur

Bentuk ekspresi bahasa yang dapat digunakan untuk menunjukkan perbedaan perspektif adalah elemen-elemen interpersonal seperti tindak tutur (Speech acts)[13]. Pandangan yang melandasi tindak tutur, jika orang mengatakan sesuatu, orang akan melakukan sesuatu untuk tuturan itu. Hal itu merupakan aspek dalam fungsi interpersonal bahasa.  Contoh (26) dan (27) berikut dapat menjelaskan tindak tutur yang dapat menimbulkan perspektif berbeda.

            (26) Ada unjuk rasa

            (27) Kongres Umat Islam merekomendasikan presiden dan wapres mendatang harus pria, beriman, dan bertaqwa (Jawa Pos, 7/11/98).    

Pada tuturan (26) dituturkan oleh seorang polisi, tidak sekedar menginformasikan sesuatu,tetapi juga berfungsi sebagai perintah ke lokasi untuk pengamanan.  Hal itu berbeda maknanya jika dituturkan oleh mahasiswa di kampus, ujaran itu bukan informasi tetapi ajakan. Demikian pula dalam (27), bagi mereka yang mengikuti  perkembangan pasca Pemilu 1999, maka dengan cepat  dapat menangkap bahwa ilokusi yang tersirat yang menghambat megawati Soekarno Putri maju menjadi presiden,.

 

f. Metafora

Menurut Aristoteles seperti yang dikutib Abdul Wahab[14] metafora merupakan ungkapan kebahasaan yang menyatakan  uangkapan kebahasaan yang menyatakan hal-hal yang bersifat umum untuk hal-hal yang bersifat khusus dan sebaliknya. Metafora digunakan  sebagai ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak bisa dijangkau secara langsung  dari lambang karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Artinya, metafora  merupakan pemahaman pengalaman sejenis hal yang dimaksudkan untuk perihal lain. Metafora digunakan jurnalis untuk membangun perspektif dalam surat kabar. Berikut adalah contoh metafora yang dapat menimbulkan perspektif berbeda

(28) Gelombang mahasiswa mendatangi Gedung DPR Senayan mendesak agar anggota dewan ikut mengusut 4 mahaiswa yang ditembak di Universita Trisakti

         (29) Ibarat pemain sepakbola, saat ini penyelesaian utang PT Garuda Indonesia sduah memasuki injury time, tinggal menunggu peluit panjang.

Metaforik gelombang untuk menggambarkan laut yang bergulung-gulung dan menakutkan (28) metaforik injury time menggambarkan sedikitnya waktu PT Garuda Indonesia untuk melunasi utang.

            (30) Debitor Nakal Perlu Dicekal

            (31) Amin, Gus Dur, Hamzah, dan Nur Mahmudi Bertemu

                    Mereka Bahas “Buah Simalakama” Mega

Kata nakal dalam (30) memiliki adanya tiga kesamaan sifat nakal yaitu (1) masih kanak-kanak, sehingga kurang mampu membedakan mana yang benar dan mana yan salah, (2) sudah tahu aturan yang sudah disepakati tetapi tetap saja melanggar, (3) sudah dinasihati tetapi tidak memperbaiki. Demikain dengan “buah simalakama”, jika Megawati terpilih menjadi presiden keadaan belum tentu bertambah baik. Sebaliknya jika Megawati tidak terpilih akan berpotensi buruk. Bagi partai berbasis massa Islam  perempuan memang tidak diijinkan menjadi pemimpin.

 

C. Analisis Wacana Model Norman Fairclough

Fairclough membangun suatu model  analisis wacana yang memiliki kontribusi dalam analasis sosial budaya, sehingga mengkombinasikan  tradisi analisis teks—yang selalu melihat bahasa dalam ruang tertutup—dengan konteks  masyarakat yang lebih luas. Ia membagi analisis wacana dalam tiga dimensi yaitu teks, discourse practice, dan sociocultural practice[15]. Teks dianalisis secara linguistik  dengan melihat kosakata, sintaksis, dan semantiknya. Prinsip kohensifitas juga diperhatikan , hubungan antarkata dan antarkalimat diperhatikan dalam membentuk pengertian. .Semua elemen yang dianalisis dipakai untuk melihat tiga masalah yaitu (1) ideasional yang merujuk  pada representasi tertentu  yang ingin ditampilkan, (2) relasi merujuk pada analisis bagaimana konstruksi hubungan antara wartawan dengan pembaca disampaikan, dan (3) identitas merujuk pada konstruksi tertentu dari identitas wartawan dan pembaca, serta bagaimana personal identitas ini hendak ditampilkan. Meminjam Istilah Halliday dan Hassan butir ketiga teks ini merujuk pada siapa yang berbicara atau dibicarakan. 

Discource practice merupakan dimensi yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks. Sebuah teks berita dihasilkan melalui produksi teks yang berbeda, seperti bagaimana pola kerja, bagan kerja dan rutinitas menghasilkan berita. Proses produksi berita memiliki sifat yang spesifik melalu bebeapa tahapan proses dimulai dari peliputan, pelaporan,dan penyuntingan (editing). Beberda dengan teks karya sastra yang tidak perlu melalui jalur produksi yang panjang.

Sociocultural practice adalah dimensi yang berhubungan dengan konteks di luar teks. Konteks memasukkan banyak hal seperti konteks situasi, lebih jauh lagi konteks yang berhubungan demgam konteks institusi dan budaya. Misalnya konteks politik media, ekonomi media, dan budaya media berpengaruh terhadap berita yang dihasilkan. Ketiga dimensi tersebut digambarkan oleh Fairclogh seperti berikut.

 

 

 

 

 

Dimension of Discourse                        Dimension of Discourse Analysis

 

Description (text analyssis)

 

Interpretation (processing analysis)

 

Explanation (social analysis)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sociocultural practice

(Situasional, Institusional, societal)

 

Process of production

 

 

 

Process of interpretation

Discourse Practice

text

 

   

 

Sebelum dimensi tersebut dianalisis , kita perlu memahami praktik diskursif dari komunitas pemakai bahasa yang disebut sebagai order of discourse. Order of discourse secara sederhana  seperti layaknya pakaian: pakaian di kantor berbeda dengan pakaian tidur dan pakaian renang. Pemakaian bahasa menyesuaikan dengan praktik diskursif di tempat mana ia berdada, ia tidak bebas memakai bahasa. Ketika menganalisis teks berita perlu melihat dulu oder of discourse, apakah bentuknya hardnews, features, artikel, atau editorial. Ini akan membantu peneliti  untuk mekaknai teks, produksi teks, dan konteks sosisal dari teks yang dihasilkan[16]. 

            Paparan berikut ini merupakan contoh  manifestasi perspektif pemberitaan surat kabar Indonesia dalam bentuk ekspresi bahasa. Data diambil dari berita media pasca reformasi, Mei-Juli 1999, satu tahun runtuhnya rejim Soeharto.

 

a. Pilihan Kata

Berikut dicontohkan pilihan kata tentang “penyeldidikan harta mantan Presiden Soeharto Rp 120 triliun di Bank Swiss

(32) Pakar hukum pidana dari Univesitas Gadjah Mada  Yogyakarta, Prof. Dr. Bam,bang Purnomo, S.H. menilai langkah Habibie mengirim Jaksa Agung dan Menteri Kehakiman ke Swiss dan Austria untuk menyelidiki kebenaran harta Soeharto tidak akan efektif karena diumumkan secara terbuka.

(33) Ketua Gempita (Gerakan Peduli Harta Negara_ Dr. Albert Hasibuan, S.H. merasa pesimis pemerintah sekarang bisa mengusut dan mengadili mantan Presiden Soeharto.

(34) Berbagai kalangan pesimis, dengan hasil yang bakal dicapai oleh Tim yang dipimpin oleh Jaksa Agung Andi Ghalib yang akan berangkat ke Swiss dan Austria.

(35) Pesimisme seperti itu juga dikemukakan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR-RI Syaiful Anar Hussein

(36) Di Ujung Pandang , Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan tidak percaya upaya Muladi-Ghalib ke Austria dan Swiss untuk melacak  kekayaan Soeharto dapat membuahkan hasil

(37) Perjalanan Andi Ghalib dan Muladi ke Swiss dan Austria adalah sandiwara politik dan hampir tidak ada maknanya.

(38) Upaya tesebut hanya sia-sia dan merupakan lelucon politik selama Soeharto belum dijadikan tesangka)    

 

Perbedaan pengalaman para wartawan atau surat kabarnya tentang “penyelidikan harta Soeharto ke Swiss dan Austria oleh Muladi dan Ghalib” secara jelas diwujudkan dalam enam pilihan kata tidak akan efektif, merasa pesimis, pesimisme, tidak percaya, sandiwara politik, dan hanya sia-sia.

 

b. Struktur Informasi

                              Pengaturan struktur informasi atau organisasi isi proposisi dalam kalimat atas informasi latar dan informasi baru dapat dipergunakan menandai perspektif pemberitaan. Perspektif pemberitaan akan telihat dari memilihan bagian proposisi tertentu sebagai informasi baru dan bagian proposisi lain sebagai informasi latar. Berikut contoh fenomena pengaturan informasi.

(39) Sebelum bentrok sebenarnya sempat dilakukan negosiasi dengan tawaran 50 wakil PRD berdialog dengan KPU di ruang sidang, dengan catatan yang lain menunggu di jalan.

(40) Sebelum terjadi bentrokan, aparat keamanan yang menjaga pintu masuk kantor KPU di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, sempat membiarkan pengunjuk rasa dengan atribut PRD lengkap di sekujur tubuh mereka  membaswakan orasi 50 menit..

 

Kedua proporsisi di atas menginformasikan tentang bentrokan antara PRD dengan aparat kepolisian diKPU. Perbedaan itu tampak dalam proposisi pengisi informasi latar baru. Jika disederhanakan , struktur proposisi kedua data (39) dan (40) adalah sebagai berikut.

(39a) Bentrok PRD dan polisi—negosiasi PRD dan polisi, 50 perwakilan PRD bertemu wakil KPU—bentrok PRD dan Polisi 28 luka-luka .

                  (40a) Bentrok  PRD dan Polisi—PRD dibiarkan polisi berorasi 50 menit—aparat keamanan membubarkan orsi PRD—bentrok polisi dengan PRD 28 luka-luka.

                   Pada kedua data tersebut yang ditulis dengan huruf miring adalah data informasi baru dan yang ditulis dengan huruf tegak adalah informasi latar. Untuk mendukung analisis ini, berikut disajikan kalimat yang mendahului kedua kalima tersebut.

(41) Pengamat kepolisian Prof. Dr. Satjipto Rahardjo, S.H. menyatakan, insiden penembakan massa PRD oleh aparat keamanan  justru bertepatan dengan peringatan hari Bhayangkara makin memperburuk momentum tersebut

(42) Demontrasi fanatik sekitar 500 massa Partai Rakyat Demokratik (PRD) di depan Gedung KPU, kemarin berubah berdarah.

 

Dari struktur proposisi pada data (39) dan konteks data sebelumnya (41)  terlihat bahwa proposisi Demo PRD merupakan informasi latar.Kedua informasi itu dapat ditemukan rujukannya dalam data  (41) yakni penembakan massa PRD pada hari Bhayangkara makin memperburuk citra polisi . Sementara itu , proposisi demonstrasi fanatik sekira 500 massa PRD berubah berdarah tidak ditemukan dalam rujukannya. Perbdaan Proposisi pengisi informasi latar baru dapat dilihat dalam tabel berikut

 

Data

Informasi Latar

Informasi baru

39

Bentrok di KPU antara PRD dan Polisi

Negosiasi 50 perwakilan PRD berdialog dengan KPU

40

Bentrok di KPU antara PRD dan Polisi

Polisi membiarkan PRD berorasi 50 menit

.

Dari tabel tesebut dapat disimpulkan bahwa proposisi yang mengisi informasi latar sama yaitu Bentrok di KPU antara PRD dan Polisi, namun informasi baru yang dimunculkan  oleh wartawan berbeda yaitru Negosiasi 50 perwakilan PRD berdialog dengan anggota KPU (Suara Pembaruan)dan Polisi membiarkan PRD berorasi 50 menit (Media Indonesia).

Berdasarkan struktur dan dan konteks kedua data, serta praanggapan masing-masing pengisi informasi latar dan informasi baru disimpulkann bahwa surat kabar Suara Pembaruan pro masyarakat. Seharusnya polisi tidak perlu bentrok dengan PRD, apalagi dengan menembak, menendang, memukul,d an menginjak-inkal.

 

D. Kesimpulan

      Analisis wacana berdasar perspektif sosiokultural pada dasarnya menggunakan pola analisis teks, preses produksi teks, dan konteks. Analisis teks digunakan untuk melihat struktur teksnyan untuk memahami struktur kata,  kalimat, dan makna. Pada langkah selanjutnya penganalisis memahami proses produksi teks dengan menganalisis struktur tema dan konteks sosial budaya teks itu dihasilkan.

 

      Baik van Dijk maupun Fairclouch masih sepakat memahami wacana dari teks. Namun keduanya  masih melengkapi pemahaman teks itu dengan memahami kognisi sosial dan konteks (van Dijk) dan proses produksi dan proses interpretasi bedasarkan konteks sosial budaya .

      Dalam hubungannya dengan aspek prouksi kekerasan oleh media sangat tergantung bagaimana teks tersebut dikonstruksi oleh orang-orang di belakangnya berkait dengan sistem politik, ekonomi, dan struktur budaya media.

 


Daftar Bacaan

 

Brown, Gillian and Yule, George, Discourse Analysis. (Cambridge: Cambride University Press. 1983)

 

 

Eryanto, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. (Yogyakarta: LKiS, 2001)

 

Fairclough, Norman, Critical Discourse Analysis (New York: Longman Publishing, 1995)

Fairclough, Norman, Media Discourse (New York: Arnold, 1995b)

 

Fowler, Roger. Language in the News: Discourse and Ideology in the Press (London: Routledge, 1991)

 

Halliday, M.A.K, and Hassan, R., Language, Context and Text. Geolong Victoria: Deakin University Press, 1985)

 

Leech, Geoffrey. Prinsip-Prinsip Pragmatik (Terj. MDD Oka) (Jakarta: UI Press, 1993)

 

Van Dijk, Teun A (ed), “Structures of  News in the Press” Discourse and Communication New Approachs to the Analysis of Mass Media Discourse and Communication (New York: Walter de Gruyter, 1985)

 

Renkema, Jan, Discourse Studies: An Introductory Texbook. (Amsterdam: John Benjamin Publising Company, 1993)

 

Suroso , ”Bahasa Propaganda Pers Rejim Orde Baru” dalam Menuju Pers Demokratis (Yogyakarta, LSIP, 2001)

 

Suroso, Bahasa Jurnalistik Perspektif Berita Utama Politik dalam Surat Kabar Indonesia pada Awal Reformasi (Jakarta: UNJ, 2002)

 

Van Dijk, Teun A (ed), “Structures of  News in the Press” Discourse and Communication New Approachs to the Analysis of Mass Media Discourse and Communication (New York: Walter de Gruyter, 1985)

 

Wahab, Abdul. Isu Lingtuistik dan PengajaranBahasa dan Sastra (Surabaya: Airlangga University Press, 1995).

 



[1] Fairclouch, Norman, Critical Discourse Analysis The Critical Study of Language (London: Longman, 1995a)

[2] Fairclough, Norman, Media Discourse (New York: Arnold, 1995b)

[3] , Van Dijk, Teun A (ed), “Structures of  News in the Press” Discourse and Communication New Approachs to the Analysis of Mass Media Discourse and Communication (New York: Walter de Gruyter, 1985)

[4] Eryanto, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. (Yogyakarta: LKiS, 2001)

[5] Suroso, Bahasa Jurnalistik Perspektif Berita Utama Politik dalam Surat Kabar Indonesia pada Awal Reformasi (Jakarta: UNJ, 2002)

[6] Suroso , ”Bahasa Propaganda Pers Rejim Orde Baru” dalam Menuju Pers Demokratis (Yogyakarta, LSIP, 2001) h 8-13

[7] Halliday, M.A.K, and Hassan, R., Language, Context and Text. Geolong Victoria: Deakin University Press, 1985)

[8] Renkema, Jan, Discourse Studies: An Introductory Texbook. (Amsterdam: John Benjamin Publising Company, 1993)

[9] Fairclough, Norman, Critical Discourse Analysis (New York: Longman Publishing, 1995)

[10] Brown, Gillian and Yule, George, Discourse Analysis. (Cambridge: Cambride University Press. 1983)

[11] Fowler, Roger. Language in the News: Discourse and Ideology in the Press (London: Routledge, 1991)

[12] Fowler, Roger. Language in the News: Discourse and Ideology in the Press (London: Routledge) p 185-213

[13] Leech, Geoffrey. Prinsip-Prinsip Pragmatik (Terj. MDD Oka) (Jakarta: UI Press, 1993)

[14] Wahab, Abdul. Isu Lingtuistik dan Pengajaran bahasa dan Sastra (Surabaya: Airlangga University Press.

[15] Fairclough, Norman, Critical Discourse Analysis The Ctitical Study of Language (New York : Langman, 1995) p 96-102

[16] Eriyanto, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Medeia. (Yogyuakarta: LKiS, 2001) hal 28