PROGRAM BERMAIN MENUJU KEBERAKSARAAN
DAN PENCERDASAN ANAK
Oleh Suroso
Orang tua modern pasti akan resah menghadapi kenyataan ketika putra-putri tercintanya belum lancar membaca ketika di usia sekolah dasar. Di satu isi ada pandangan di usia prasekolah tidak perlu diajari membaca dan menulis tetapi lebih banyak diajarkan masalalah nilai , sikap, dan keterampilan melalui kegiatan bermain. Di sisi lain, ada pandangan bahwa anak usia prasekolah harus sudah mengenal huruf, mengeja kata, merangkai kata, dan membuat kalimat sederhana untuk keperluan menumbuhkan keingintahuan dan menyemaikan minat baca.
Sampai saat ini, memang tidak ada aturan yang melarang anak-anak untuk dapat membaca dalam usia yang lebih dini. Kenyataan di sekolah dasar juga membuktikan bahwa guru di kelas satu juga mendapat tambahan beban ketika anak asuhnya belum bisa membaca apalagi menulis. Oleh karena itu program literasi atau baca-tulis menjadi penting diberikan sejak usia dini. Penelitian juga membuktikan bahwa anak-anak usia prasekolah sudah dapat menyusun pola kalimat sedeerhana dua tiga kata.[1]
Persoalan baca-tulis menjadi isu yang penting karena laporan IEA Study of Reading Literacy, menyatakan bahwa kemampuan anak-anak sekolah dasar di Indonesia sangat rendah. Dari 31 negara yang diteliti, Indonesia menduduki peringkat 30, sedangkan peringkat tertinggi diduduki Finlandia dan beberapa negara maju termasuk Jepang. Fenomena rendahnya membaca ini ibarat gunung es yang sedikit mencuat keluar namun sejatinya banyak masyarakat Indonesia yang belum melek baca.Hal itu banyak dilihat dari anggota DPR yang tidur pada saat sidang, orang ngobrol sendiri ketika menghadiri seminar atau diskusi gratis. Kita juga tidak menyaksikan di ruang tunggu terminal, bandara, stasiun, dan ruang tunggu lain orang melakukan kegiatan membaca. Bandingkan dengan orang-orang Jepang, tidak ada waktu yang terbuang dengan melakukan kegiatan membaca. Rendahnya kemampuan membaca ini berakibat juga rendahnya daya saing bangsa Indonesia di mata Internasional.
Kegiatan awal baca-tulis anak-anak prasekolah memang terbatas pada kemampuan untuk mengenal kata, merangkai atau menulis kata dan kalimat. Namun, pada tingkat selanjutnya kegiatan baca-tulis adalah munculnya sikap untuk terus mau dan mampu membaca dalam berbagai bahasa dalam rangka menggali pengetahuan untuk memperluas kecerdasan ganda seperti kecerdasan bahasa, matematika, musik, tubuh, spasial, intrapersonal dan interpersonal.[2] Secara langsung kemampuan baca-tulis berkait dengan ketujuh kecerdasan tersebut terutama kecerdasan bahasa, intrapersonal dan interpersonal, seperti jabatan-jabatan yang berkait langsung dengan urusan berbicara seperti pengacara, pembicara seminar, konselor, orator, pengarang, wartawan, manajer pemasaran, dll. Sedangkan empat kecerdasan lain berkait dengan intensitas kemauan membaca dari keempat bidang tersebut.
Baca-Tulis Sambil Bermain
Mengapa kegiatan baca-tulis anak-anak prasekolah erat dengan kegiatan bermain? Anak-anak yang bermain dengan kemampuannya, spontanitasnya, ketenangannya, daya tahannya, bahkan dengan tubuhnya yang kelelahan, akan menjadi cakap, tenang, memiliki daya tahan, dan bahkan mengorbankan dirinya untuk membuat orang lain sejahtera.[3] Dengan bahasa sederhana kegiatan bermain dapat mendatangkan maslahat dan membentuk kepribadian anak.
Dalam kegiatan bermain anak-anak dapat berimajinasi dan mengembangkan harapannya melalui permainan itu. Permainan juga dapat menghubungkan informasi baru berdasarkan pengalaman yang sudah dimiliki anak. Kegiatan bermain memiliki ciri pengembangan ”logika”, kemampuan, kesenangan, fleksibilitas yaitu kombinasi ide, kesukarelaan, dan kontrol diri. Dengan bahasa sederhana, dalam kegiatan bermain tumbuh rasa percaya diri, pengendalian diri, dan kebersamaan diri.
Terdapat beberapa tipe permainan untuk menuju kegiatan baca-tulis yaitu (a) permainan fungsional yang dapat melatih otot seperti berlari, melompat, menggali, memotong, melempar (bola), menendang (bola), (b) permainan konstruktif, pemanfaatan balok, tali, pasir, adonan, tanah liat , dsb, (c) permainan dramatik, seperti main peran seorang dokter memeriksa denyut nadi boneka, menelepon, dsb, (d) permainan dengan aturan, bertujuan memahami, menerima, merundingkan, dsb.[4] Dengan bahasa yang sederhana, kecerdasan anak dapat diwujudkan dengan tersedianya alat-alat bermain dan adanya stimulan untuk menumbuhkan kecerdasanya, seperti guru dan suasana pendidikan yang baik.
Bahasa Anak dan Bagaimana ”Mengajarkannya”
Anak sudah memiliki piranti pemerolehan bahasa yang dikenal dengan (Language Acquisaition Device/LAD) dan potensi bahasa bawaan yang dibawa sejak lahir. LAD dan potensi ini tidak dapat dipisahkan dengan akal budinya. [5]Sesuai denga karakteristik LAD, anak membentuk kaidah bahasa yang dipelajarinya berdasarkan bahasa yang diterimanya. Kaidah itu diinternalisasikan untuk digunakan dalam berkomunikasi. Apabila kaidah itu cocok dengan pengalaman anak, maka kaidah itu terus dipakai. Dengan bahasa yang sederhana, anak usia parasekolah memiliki kaidah bahasa sendiri yang berbeda dengan bahasa orang dewasa. Ada berbagai sebutan bahasa anak seperti bahasa antara (interlanguage), dialek khas (idiosyncratic dialect) dan kompetensi transisi (transitional competence). Dengan demikian anak sejatinya sudah memiliki bahasa tetapi bagaimannya memberi pajanan atau pelatuknya (exposure) yang harus diketahui orang tua.
Orang tua, khususnya ibu, dapat mengembangkan potensi bahasa anak jika mampu berperan sebagai pajanan dan berepean sebagai media pembelajaran ditambah tersedianya berbagai peralatan permainan yang dapat mengembangkan potensi bawaan bahasa anak yang dibawa sejak lahir. Persoalannya, adalah saat ini banyak ibu yang kurang sabar dan telaten dalam pengembangkan potensi bahasa anak secara optimal. Oleh karena itu, orang tua yang memiliki kesibukan cukup tinggi berkewajiban untuk membelajarkan anaknya ke lembaga pendidikan profesional yang sangup meningkatkan potensi anak secara optimal dengan tersedianya fasilitas belajar dan guru-guru yang profesional.
Survai yang dilakukan terhadap anak-anak 4-5 tahun di berbagai negara membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kegitan bermain dengan kemampuan berbahasa anak. Anak-anak yang memperoleh pajanan (exposure) yang cukup seperti video, aneka kegiatan pengembangan kognitif (melalui permainan fungsional, role play, permainan dengan aturan, dalam kegiatan bermain, memiliki potensi bahasa yang bagus. Oleh karena itu, sudah selayaknya orang tua mampu menjadi fasilitator dan penyedia sarana bermain anak. Buku bacaan bergambar, kamus bergambar, peta, globe, kamus, dan komputer beserta sofware belajar tidak bisa ditunda lagi kalau ingin memiliki anak cerdas dan berkualitas.
Saran Pembelajaran Keberaksaraan Anak
Untuk mewujudkan hubungan antara bermain dan literasi maka perlu diupayakan hal-hal berikut (a) lengkapi alat bermain anak dan sarananya, (b) alokasikan waktu bermain agar anak merasa senang dan (3) bantulah mereka memperkaya informasi berdasarkan pengalamannya. Dalam pembelajaran literasi anak, usahakan agar situasi pembelajarannya informal, anak tidak merasa diajar tetapi sesungguhnya mereka sudah belajar baca-tulis melalui kegiatan mengeja, merangkai kata melalui kegiatan bermain yang menyenangkan. Misalnya melalu balok huruf, kamus bergambar, dsb. Optimalkan penumbuhan kesadaran berbahasa anak melalu baca tulis secara bermakna, seperti bercerita melalu bacaan bergambar yang bagus. Sediakan alat-alat belajar baca-tulis seperti media seni untuk main peran (dokter, insinyur, wartawan, guru, artis, olahragawan, dsb), alat lukis, buku cerita, dan musik. Berilah beberapa pilihan belajar untuk mengikuti keinginannya dan aspirasinya. Ketika anak belajar pada apa yang disukainya maka saluran afeksi akan terbuka lebar dan dia memperoleh manfaat apa yang dipelajarinya. Membaca di usia dini menuai masa depan cemerlang di usia dewasa. *)
Dr. Suroso. Pengamat dan Konsultan Pendidikan.
[1] Suroso. Pola Kalimat Bahasa Indonesia Anak Usia Prasekolah. Jurnal Kependidikan, Nomor I, tahun XXVI, 1996. Yogyakarta: Lemlit UNY. Hal. 122-123.
[2] Amstrong, Thomas. Multiple Intelligences in the Classroom.Cloverdale, CA: Amstrong Creative Training. 1994
[3] Musthafa Bachrudin. Let Kids Play and Develop into Readers and Writers of Their Own: (Play to Promote Early Literacy). English Quarterly vol. 33, nos. 3 and 4, 2001. pp 47-51.
[4] Christie,J.F. (Ed). (1991). Play and Early Literacy Development. Albany,N.Y: SUNY Press.
[5] Ellis, R. (1990). Understanding Second Language Acquisition. London: Oxford University Press.









1 user commented in " Program Bermain dan Keberaksaraan Anak "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackCasino 1241123172…
Casino 1241123172…