OLIMPIADE SASTRA? MUNGKINKAH?

Olimpiade pertama kali di Athena untuk adu kehebatan di bidang olahraga, menginspirasi orang untuk adu kepiawaian di bidang lain. Oleh karena muncul Olimpiade sains dan matematika, astroomi, Teknologi Informatika dan sebagainya. Pendeknya, pemegang medali emas dalam ajang olimpiade baik itu tingkat kabupaen/kota, provinsi, nasional, regional dan dunia adalah para Jawara di bidangnya. Di tingkat internasional anak-anak Indonesia sudah meyabet berbagai medali seperti yang dilakukan secara rutin oleh anak-anak SMA BPK Penabur Tanjung Duren Jakarta. Wabah olimpiade sains juga sudah menyebar ke berbagai antero Indonesia. Tidak jarang pihak sekolah dan orang tua berlomba untuk mendanai putra-putrinya meraih medali.

Sudah jamak orang mengikuti lomba Olimpiade sains, matematika, astronomi, dan teknologi informasi. Namun, mungkinkah diselenggarakan olimpiade sastra? Mengapa olimpiade sastra? Pentingkah Sastra? Apakah sastra dapat mengubah peradaban? Apakah ada orang berminat pada olimpiade sastra? Substransi apa yang akan dilombakan dalam olimpiade Sastra? Siapakah yang bertanggung jawab  menyelenggarakan olimpiade sastra? Berbagai pertanyaan itu berkecamuk dan sedang dibahas di Depdiknas dengan menghadirkan berbagai pakar sastra dan praktisi Sastra seperti Maman S Mahayana dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia dan Sastrawan Taufik Ismail.

Mungkin ada hal penting dibalik rencana olimpiade Sastra. Pertama, masih dominannya budaya lisan di kalangan pelajar dan masyarakat. Pembelajaran di kelas masih didominasi kegiatan lisan, bukan kegiatan membaca. Kalau boleh jujur apa yang dikatakan Sastrawan Taufik Ismail benar, bahwa siswa kira masih Nol membaca karya sastra kita. Pada tataran yang lebih dahsyat tidak banyak orang Indonesia yang mengenal karya bangsa sendiri. Kalau mau riset, mungkin anggota DPR yang jumlanya 550 orang itu tidak sampai 10% yang mengetahui karya sastra bangsa Indonesia. Kedua, dalam karya sastra mengandung paparan budaya, pemikiran, ide, dan aspirasi. Hal ini penting untuk memahami pluralitas bangsa Indonesia. Dalam bahasa filsafat Indonesia itu ber-bhineka Ttunggal Ika. Sudah pahamkan orang-orang Batak dengan budaya Jawa demikian sebaliknya. Sudah pahamkah orang Jawa dengan Budaya Dayak dan sebaliknya, Sudah pahamkah orang Jawa dengan Budaya Bugis Makasar dan Sebaliknya. Sudah pahamkah orang Jawa memahami budaya Papua dan Sebaliknya. Karena bangsa Indonesia itu terdiri bermacam suku, bahasa dan budaya tentu saja pemahaman lintas budaya untuk membentuk saling pengertian mendesak dilakukan. Hal itu bisa diwujudkan dengan membaca dan memproduksi karya sastra atau tradisi lisan untuk dikomunikasikan pada etnis lain. Ketiga, dengan melaksanakan olimpiade sastra, mau tidak mau akan memunculkan kebiasaan membaca. Dampak selanjutnya para pembaca akan memiliki hobi membaca dan belanja buku. Keempat, kehadiran olimpiade sastra memaksa guru untuk rajin membaca kalau tidak mau dilewati oleh siswanya yang memiliki keampuan membaca sastra. Dengan kegiatan ini guru pada akhirnya akan menjadi kolektor buku dan memiliki kebiasaan membaca.